hidup sekali hiduplah yang berarti,event the best can be improved, the best never last

Senin, 10 Mei 2010

GAMBARAN UMUM EKOSISTEM PERAIRAN (Ekosistem sungai, muara, tambak, dan pantai)

1.  Ekosistem sungai
Muara merupakan tempat pertemuan antara air laut dengan air sungai dan merupakan bagian hilir dari sungai. Pada dasar perairan muara ini terjadi pengendapan karena hal ini terjadi pertemuan partikel pasir/lumpur yang dibawa oleh arus sungai bertemu dengan pasir yang berada di daerah sekitar pantai. Dengan demikian percampuran pasir tersebut menghasilkan pengendapan lumpur yang sangat berpengaruh pada perilaku kehidupan organisme muara. Selain itu salinitas yang terbentuk di muara merupakan campuran antara salinitas air sungai dengan salinitas laut (Hutabarat, 1985).
Salinitas pada air muara sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Pada keadaan pasang air laut yang masuk ke muara sangat besar sekali sehingga salinitas air menjadi naik. Sedangkan pada waktu surut air laut yang masuk ke muara sangat sedikit sehingga indeks salinitas air muara sangat rendah. Selain itu musim juga berpengaruh terhadap indeks salinitas air muara (Karyadi, 1994).
   Organisme konsumen di muara beraneka ragam dan jumlahnya besar. Zooplankton merupakan predator terbesar. Remis, udang-udangan dan ikan sering besar ukurannya. Jumlah organisme di muara dipengaruhi besar oleh indeks salinitas, hanya organisme tertentu yang dapat hidup di muara ini yaitu organisme yang mampu menyesuaikan organ tubuhnya dengan salinitas air muara (Karyadi, 1994).
   Muara merupakan suatu tempat yang cukup sulit untuk di tempati, bersifat cukup produktif yang dapat mendukung sejumlah besar biomassa. Secara umum muara hanya dapat dihuni oleh beberapa spesies saja. Menurut Soeyasa, (2001),  faktor-faktor yang dapat menyebabkan daerah ini mempunyai nilai produktivitas yang tinggi adalah :
a.        Terdapat penambahan bahan-bahan organik secara terus-menerus yang berasal dari daerah aliran sungai,
b.        Perairan muara umumnya dangkal, sehingga cukup menerima sinar matahari untuk menyokong kehidupan tumbuh-tumbuhan,
c.        Tempat yang relatif kecil menerima aksi gelombang, akibatnya detritus dapat menumpuk di dalamnya,
d.       Aksi pasang selalu mengaduk bahan-bahan organik yang berada di sekitar tumbuh-tumbuhan.
       Daerah muara merupakan tempat hidup yang baik bagi populasi ikan jika dibandingkan jenis hewan lain. Daerah ini merupakan tempat untuk berpijah dan membesarkan anak-anaknya bagi beberapa spesies ikan (Hutabarat, 1985).







2.  Ekosistem muara
Muara merupakan tempat pertemuan antara air laut dengan air sungai dan merupakan bagian hilir dari sungai. Pada dasar perairan muara ini terjadi pengendapan karena hal ini terjadi pertemuan partikel pasir/lumpur yang dibawa oleh arus sungai bertemu dengan pasir yang berada di daerah sekitar pantai. Dengan demikian percampuran pasir tersebut menghasilkan pengendapan lumpur yang sangat berpengaruh pada perilaku kehidupan organisme muara. Selain itu salinitas yang terbentuk di muara merupakan campuran antara salinitas air sungai dengan salinitas laut (Hutabarat, 1985).
Ekosistem Muara biasa juga disebut dengan ekosistem estuari atau perairan estuari dimana, muara  merupakan percampuran air tawar dengan air laut.  Proses-proses alam yang terjadi di perairan muara, mengakibatkan muara sebagai habitat disejajarkan dengan ekosistem hutan hujan tropik dan ekosistem terumbu karang yaitu sebagai ekosistem produktif alami.  Ekosistem estuari ini cenderung lebih produktif dibanding dengan ekosistem pembentuknya, yaitu perairan tawar dan perairan laut (Soeyasa ,2001).
Salinitas pada air muara sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Pada keadaan pasang air laut yang masuk ke muara sangat besar sekali sehingga salinitas air menjadi naik. Sedangkan pada waktu surut air laut yang masuk ke muara sangat sedikit sehingga indeks salinitas air muara sangat rendah. Selain itu musim juga berpengaruh terhadap indeks salinitas air muara (Karyadi, 1994).
Organisme konsumen di muara beraneka ragam dan jumlahnya besar. Zooplankton merupakan predator terbesar. Remis, udang-udangan dan ikan sering besar ukurannya. Jumlah organisme di muara dipengaruhi besar oleh indeks salinitas, hanya organisme tertentu yang dapat hidup di muara ini yaitu organisme yang mampu menyesuaikan organ tubuhnya dengan salinitas air muara (Karyadi, 1994).
            Muara merupakan suatu tempat yang cukup sulit untuk di tempati, bersifat cukup produktif yang dapat mendukung sejumlah besar biomassa. Secara umum muara hanya dapat dihuni oleh beberapa spesies saja. Menurut Soeyasa, (2001),  faktor-faktor yang dapat menyebabkan daerah ini mempunyai nilai produktivitas yang tinggi adalah :
Terdapat penambahan bahan-bahan organik secara terus-menerus yang berasal dari daerah aliran sungai,
Perairan muara umumnya dangkal, sehingga cukup menerima sinar matahari untuk menyokong kehidupan tumbuh-tumbuhan,
Tempat yang relatif kecil menerima aksi gelombang, akibatnya detritus dapat menumpuk di dalamnya,
Aksi pasang selalu mengaduk bahan-bahan organik yang berada di sekitar tumbuh-tumbuhan.
Daerah muara merupakan tempat hidup yang baik bagi populasi ikan jika dibandingkan jenis hewan lain. Daerah ini merupakan tempat untuk berpijah dan membesarkan anak-anaknya bagi beberapa spesies ikan (Hutabarat, 1985).




3.  Ekosistem tambak
Ekosistem tambak adalah suatu hubungan timbal balik antara unsur biotik dengan abiotik didalam tambak. Banyak kesamaan antara daerah tambak dengan daerah estuarine dalam hal pasang surut, salinitas kandungan detritus dan komposisi biotanya (Soeyasa, 2001)
Menurut Soeyasa, (2001), lokasi tambak harus memperhatikan beberapa aspek, yaitu :
1.      Aspek biologis
Berhubungan langsung dengan usaha budidaya ( biota ) yang ada.
2.      Aspek  ekologis
      Aspek ini meliputi:
a.       Iklim
Indonesia merupakan daerah tropis, keadaan cuacanya relatif teratur sepanjang tahun. Dan komponen yang berhubungan dengan iklim adalah angin dan curah hujan. Selain itu juga dipengaruhi oleh suhu.
b.      Pasang surut air
Pasang surut digunakan untuk perhitungan biaya, seperti tipe tambak, cara pengelolaan dan biaya pengoperasian
c.       Arus air
d.      Kuantitas air
Suplai air merupakan faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam pengisian tambak
e.       Kualitas air
f.       Polusi air
g.      Pola hujan
3.      Aspek tanah
Tanah tambak umumnya terdiri dari hasil endapan (alluvial), sehingga kesuburannya sangat ditentukan oleh jenis dan material yang diendapkan.  Parameter yang dijadikan indikator dalam menentukan kualitas tanah yaitu, topografi, tekstur tanah, pH tanah, unsur hara dan kandungan bahan organik
Aspek sosial ekonomi

4.  Ekosistem pantai
Menurut Prawiro (1979), ekosistem pantai adalah daerah pantai tertentu termasuk komponen autotroph dan heterotroph. Batas-batas pantai terbagi menjadi tiga daerah yaitu :
a.   Continental Shelf
Daerah yang memiliki lereng atau landai dengan kemiringan ± 0,4% dan berbatasan langsung dengan daerah daratan. Daerah ini mempunyai lebar antara 50-70 km dengan kedalaman tidak lebih dari  100-200 m (Prawiro, 1979).
b.       Continental Slope
Daerah ini memiliki lereng yang kurang terjal dari Continemtal Shelf, di mana kemiringannya bervariasi antara 3-6% (Prawiro, 1979).
 c.  Continental Rise
Daerah ini merupakan daerah yang berlereng yang kemudian perlahan-lahan menjadi datar pada dasar laut. Di beberapa tempat bentuk-bentuk dari batas-batas pantai adalah kompleks (Prawiro, 1979).
 Menurut Prawiro, (1979) ekosistem pantai merupakan ekosistem paling luar di permukaan bumi yang sering dipadukan dengan ekosistem lautan. Pantai merupakan daerah perbatasan antara lautan dengan daratan. Dan sering disebut ekosistem bahari. Ekosistem lautan terbagi menjadi dua :
a.       Ekosistem Perairan Laut Dalam
Ekosistem ini mempunyai ciri spesifik yaitu tidak terjangkau oleh sinar matahari. Akibatnya pada ekosistem ini organisme fotoautotrof (Plankton dan alga) tidak ditemukan. Karena organisme fotoautotrof ini sangat membutuhkan sekali cahaya matahari dalam proses fotosintesa. Di dalam ekosistem ini jumlah detrivor, karnivor, dan saprovor sangat melimpah. Karena keadaannya yang gelap, banyak diantara jenisnya dilengkapi dengan organ yang bercahaya (Ruslan, 1991).
b.   Ekosistem Perairan Laut Dangkal
Menurut Supardi (1984), ekosistem ini berada di daerah pantai yang tergenang air laut kecuali pada saat air surut. Di dalam ekosistem ini cahaya yang masuk kedalam perairan cukup banyak sampai menembus dasar perairan, sehingga daerah ini sangat subur sekali akan organisme fotoautotrof. Daerahnya terbuka dan relatif tidak terpengaruh oleh air sungai besar karena memiliki jarak yang cukup jauh.

   Menurut Anugerah (1993), ekosistem pantai ini dapat dibedakan menjadi beberapa ekosistem, antara lain :
1.      Ekosistem terumbu karang
Ekosistem ini terbentuk di daerah perairan jernih hasil aktivitas organisme hewan berongga dan biota berkapur yang lain. Ekosistem ini mempunyai nilai ekonomis yang tinggi karena didalamnya terdapat ikan, udang, dan hewan laut lain.
2.      Ekosistem pantai batu
Ekosistem ini berupa batuan yang umumnya berukuran besar dan keras hasil penyatuan batu-batu kecil dengan tanah liat dan kapur. 
3.      Ekosistem pantai lumpur
Ekosistem pantai lumpur biasanya terdapat di muara sungai dan menjorok ke laut dengan bentangan yang cukup luas. Ekosistem ini memiliki tipe estuaria atau muara sungai dan menjadi habitat ikan gelodok.
4.      Dune
Formasi ini terdapat di pantai-pantai berpasir yang luas. Di pantai utara Madura terdapat beberapa kompleks dune, namun belum banyak diketahui tentang ekologinya. Vegetasi pionir yang terdapat pada formasi ini termasuk anggota formasi pes-caprae.
5.      Formasi   Pes-caprae
Pada ekosistem ini ditumbuhi oleh tipe vegetasi yang terdapat pada tumpukan-tumpukan pasir yang mengalami proses peninggian sepanjang pantai. Vegetasi tersebut tumbuh menutupi pasir luas mulai dari batas yang terkena ombak sampai ke pematang pantai yang berpasir.

Daftar Referensi :
Fardiaz, Srikandi. 1992. Polusi Air dan Udara. Kanisius: Bogor

Hutabarat, Sahala dan Evans.1985. Pengantar Oseanografi. UniversitasIndonesiaPerss. Jakarta 

Hutabarat, Sahala.1985. Identifikasi fitoplankton dan Zooplankton.
         Universitas Indonesia. Perss. Jakarta

Karyadi. 1994.Ikan Mas Kolam Air Deras. Swadaya. Jakarta
Nonjti, Anugerah.1993. Laut Nusantara. Jakarta. Djambatan
Novonty and Olem. 1994. Water Quality, prevention, Identification, and Management of difusi pollution. Van nostrans Reinhold, New York. 330

Nybakken. 1982. Biologi Laut Dalam Pendekatan Ekologi. Gramedia. Jakarta
Nyabakken, J.W.1988. Biologi Laut. Gramedia : Jakarta
Odum, Eugene.1994. Dasar-dasar Ekologi.Yogyakarta.Universitas Gajah Mada
Odum, E.P.1986. Fundamental of Ecology. Third Edition W.B. Sounder company. Philadhelphia. London. Toronto

Prawiro,Ruslan H.1979. Ekosistem lingkungan Hidup. Universitas Diponegoro Press. Yogyakarta

Soeyasa, 2001. Ekologi Perairan. Gramedia, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar